indosteger@gmail.com   +62218294428

News

Mengetahui Cara Menghitung Pajak Bumi Dan Bangunan

Bagi Anda yang memiliki rumah atau bangunan, membayar pajak bumi dan bangunan atau PBB adalah sebuah kewajiban. Tidak hanya terbatas pada bangunan, Anda yang memiliki tanah tanpa bangunan di atasnya juga wajib untuk membayar PBB.

Untuk yang baru hendak membeli tanah atau bangunan pertama kali, Anda juga disarankan untuk mempelajari tentang cara menghitung pajak bumi dan bangunan. Anda tentunya tidak ingin memiliki tanah atau bangunan yang pajaknya tidak bisa Anda bayar, kan?

Untuk membantu Anda memahami apa itu pajak bumi dan bangunan dan bagaimana cara menghitungnya, simak informasi berikut ini.

Mengenal Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

Mengenal Pajak Bumi dan Bangunan

Informasi mengenai cara menghitung Pajak Bumi dan Bangunan memang harus diketahui oleh Anda yang memiliki rumah atau gedung sendiri. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah pajak yang ditanggung oleh pihak pribadi atau badan yang mendapatkan keuntungan dan/atau kedudukan sosial ekonomi lebih baik dikarenakan hak atas tanah serta bangunan tersebut.

Dengan penjelasan singkat tentang arti PBB di atas, maka sudah jelas bahwa pihak yang wajib membayar pajak adalah pihak pribadi atau badan yang mendapatkan keuntungan/manfaat dari hak atas tanah serta bangunannya. Pelunasan pembayaran pajak harus dilakukan paling lambat 6 bulan sejak tanggal diterimanya SPPT (Surat Pemberitahuan Pajak Terutang).

Sebenarnya, dasar pengenaan PBB adalah dari NJOP (Nilai Jual Objek Pajak). Tertarik untuk mengetahui informasi ini lebih dalam? Simak penjelasan berikut ini.

Baca Juga: Cara Menghitung Luas Bangunan dengan Mudah yang Bisa Anda Terapkan

Subjek Pajak Bumi dan Bangunan

Orang-orang atau subjek wajib pajak adalah orang-orang yang memiliki bukti kepemilikan sah atas dan mendapatkan manfaat dari tanah atau bangunan tersebut. Berikut adalah beberapa kriteria wajib pajak yang harus membayar pajak bumi dan bangunan setiap tahunnya.

  • Adalah pemilik sah dari bumi dan bangunan yang dapat dibuktikan dengan sertifikat kepemilikan.
  • Memperoleh manfaat dari bumi dan bangunan yang dimiliki.
  • Memiliki bangunan fisik.
  • Memiliki hak dan kuasa atas bangunan.
  • Memperoleh beragam manfaat aset bangunan.

Baca Juga: Surat IMB: Syarat & Prosedur untuk Membangun

Cara Menentukan Besaran Pajak Bumi Bangunan

Seperti yang telah dijelaskan di atas, PBB wajib dibayarkan secara teratur oleh pihak pribadi atau badan. Namun dasar pengenaan PBB sendiri dilihat dari NJOP yang merupakan harga rata-rata transaksi jual beli untuk objek bumi dan bangunan. NJOP biasanya ditetapkan setiap tahunnya oleh pihak Menteri Keuangan dengan perbedaan tergantung wilayahnya.

Selain NJOP, Anda juga dapat menentukan besaran PBB yang harus dibayarkan dengan menghitung Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP). Bumi atau bangunan Anda bisa saja tidak kena dikenakan pajak bangunan karena nilainya berada di bawah ambang batas.

Untuk nilai ambang batasnya sendiri, hal ini serupa dengan NJOP di mana tiap daerah memiliki nilainya masing-masing. Tetapi, Kementerian Keuangan sendiri telah mengatur bahwa Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) terendah adalah Rp. 10.000.000,00.

Semisal Anda telah menemukan bahwa nilai bumi dan bangunan Anda berada di atas ambang batas NJOPTKP, berapa jumlah pajak yang harus Anda bayarkan?

Untuk mendapatkan besaran PBB yang harus dibayarkan, Anda sebelumnya harus mencari tahu NJKP (Nilai Jual Kena Pajak). NJKP sendiri nilainya tergantung pada jenis bangunan yang dimiliki. Untuk rumah sendiri, jika nilai NJOP-nya berada di bawah 1 Miliar, maka nilai NJKP-nya adalah 20% dari total NJOP. Untuk nilai NJOP bangunan di atas 1 Miliar, nilai NJKP-nya adalah 40% dari total NJOP.

Setelah mendapatkan NJKP, Anda tinggal mengkalikannya dengan 0.5 untuk mendapatkan nilai PBB yang harus dibayarkan tiap tahunnya.

Baca Juga: Cara Menghitung Luas Tanah dengan Benar

Cara Menghitung Pajak Bumi dan Bangunan

Perlu diketahui bahwa dasar perhitungan PBB adalah perkalian tarif 0,5% dari NJKP. Sedangkan NJKP sendiri berasal dari 20% hingga 40% NJOP. Ini contoh perhitungannya agar Anda tidak kebingungan lagi menentukan berapa besar PBB yang harus dibayarkan.

Jika NJOP sebuah objek pajak adalah Rp5.000.000, maka berapa PBB-nya sendiri? Sudah pasti Anda harus mengetahui NJKP objek pajak ini terlebih dahulu:

NJKP: 20% x Rp5.000.000 = Rp1.000.000

Berarti PBB-nya adalah:

PBB: 0,5% x Rp1.000.000 = Rp5.000

Ini hanya contoh sederhana saja. Jika diaplikasikan ke dalam objek pajak secara langsung, inilah caranya:

Luas bangunan atau rumah: 50 meter persegi

Luas tanah: 100 meter persegi

Harga bangunan: Rp1.000.000

Harga tanah: Rp2.000.000

Berarti Anda harus hitung nilai bangunan dan tanahnya:

Nilai bangunan: 50 x Rp1.000.000 = Rp50.000.000

Nilai tanah: 100 x Rp2.000.000 = Rp200.000.000

Kemudian hitung NJOP dengan menjumlahkan nilai bangunan dan tanah:

NJOP: Rp50.000.000 + Rp200.000.000 = Rp250.000.000

Sekarang waktunya menghitung PBB objek pajak tersebut:

NJKP: 20% x Rp250.000.000 = Rp50.000.000

PBB: 0,5% x Rp50.000.000 = Rp250.000

Jadi, besaran PBB yang harus Anda bayarkan adalah Rp250.000. Bagaimana? Apakah sekarang Anda sudah mengerti cara menghitung PBB atau Pajak Bumi Bangunan? Namun masih ada banyak perhitungan biaya lainnya yang perlu diketahui bahkan dimengerti saat akan membuat rumah atau bagunan, seperti salah satunya cara menghitung biaya bangun rumah untuk 2 lantai.

Semoga informasi cara menghitung pajak bumi dan bangunan (PBB) di atas dapat bermanfaat untuk Anda di dalam mengetahui besaran PBB objek pajak yang dimiliki. Namun tidak hanya itu, membangun rumah dan bangunan lainnya tidak akan lengkap tanpa menggunakan besi hollow galvanis yang sangat bermanfaat. Jika Anda membutuhkan besi hollow galvanis dengan berbagai ukuran, Indosteger telah hadir sebagai solusi material konstruksi bangunan terbaik.

Dengan informasi mengenai cara menghitung Pajak Bumi dan Bangunan yang telah diberikan di atas, ketahui harga besi 10 dari Indosteger sekarang juga.

Recent Articles