Indosteger
Indosteger adalah platform jual dan sewa scaffolding dengan proses produksi menggunakan teknologi tinggi dan bahan berkualitas sehingga hasil produksi berstandard nasional.
Dalam proyek konstruksi bangunan bertingkat, scaffolding memegang peran penting sebagai struktur sementara yang menunjang pekerjaan di ketinggian. Mulai dari pengecoran, pemasangan bekisting, hingga pekerjaan fasad, seluruh aktivitas tersebut membutuhkan perencanaan scaffolding yang matang.
Kesalahan dalam menghitung kebutuhan scaffolding bukan hanya berdampak pada biaya proyek, tetapi juga berpotensi menimbulkan keterlambatan pekerjaan hingga risiko keselamatan kerja. Karena itu, memahami cara menghitung kebutuhan scaffolding secara tepat menjadi langkah krusial, khususnya pada tahap perencanaan proyek.
Artikel ini akan membahas metode perhitungan scaffolding untuk bangunan bertingkat secara praktis, termasuk faktor teknis yang perlu diperhatikan agar sistem perancah yang digunakan benar-benar sesuai kebutuhan lapangan.
Berbeda dengan bangunan satu lantai, proyek bertingkat memiliki kompleksitas yang lebih tinggi. Beban kerja lebih besar, area kerja bertambah, serta durasi penggunaan scaffolding biasanya lebih panjang.
Jika perhitungan dilakukan terlalu minim, pekerjaan bisa terhambat karena kekurangan material. Sebaliknya, kelebihan scaffolding akan meningkatkan biaya sewa atau investasi alat yang tidak perlu.
Selain aspek efisiensi biaya, perhitungan yang tepat juga berhubungan langsung dengan:
Stabilitas struktur perancah
Kapasitas beban kerja
Keselamatan tenaga kerja
Kelancaran progres proyek
Itulah sebabnya, kebutuhan scaffolding sebaiknya dihitung berdasarkan data teknis proyek, bukan sekadar perkiraan kasar.
Sebelum masuk ke rumus perhitungan, ada beberapa informasi utama yang wajib tersedia:
Tentukan area lantai atau bidang kerja yang membutuhkan scaffolding. Untuk bangunan bertingkat, perhitungan biasanya dilakukan per zona atau per lantai agar lebih akurat.
Contoh:
Jika satu lantai memiliki luas 300 m² dan pekerjaan dilakukan bertahap per dua lantai, maka area kerja scaffolding adalah 600 m².
Ukur tinggi vertikal dari permukaan tanah hingga titik kerja tertinggi.
Misalnya:
Tinggi antar lantai: 4 meter
Jumlah lantai aktif: 5 lantai
Total tinggi kerja = 4 m × 5 = 20 meter
Data ini menentukan jumlah frame atau level scaffolding yang dibutuhkan.
Setiap sistem memiliki konfigurasi berbeda, seperti:
Frame scaffolding
Modular scaffolding
Ringlock scaffolding
Cuplock scaffolding
Perbedaan sistem akan memengaruhi jarak antar tiang, kapasitas beban, serta jumlah komponen pendukung.
Untuk bangunan bertingkat, sistem modular seperti ringlock umumnya dipilih karena fleksibel, kuat, dan mudah dikonfigurasi mengikuti bentuk bangunan.
Sebagai ilustrasi, berikut contoh perhitungan kasar menggunakan sistem modular.
Luas area kerja: 600 m²
Tinggi kerja: 20 meter
Jarak standar antar tiang: 2 m × 2 m
Satu set tiang melayani area ±4 m².
Jumlah titik tiang = 600 m² ÷ 4 m² = 150 titik
Jika tinggi per level scaffolding adalah 2 meter:
Jumlah level = 20 m ÷ 2 m = 10 level
Total standar = 150 titik × 10 level = 1.500 batang standar
Selain tiang utama, Anda juga perlu menghitung:
Ledger horizontal
Diagonal brace
Platform kerja
Base jack dan U-head
Guardrail dan toe board
Jumlahnya menyesuaikan konfigurasi sistem dan standar keselamatan proyek.
Perlu dicatat, contoh ini bersifat ilustratif. Pada praktiknya, perhitungan harus disesuaikan dengan layout bangunan, kapasitas beban, serta metode kerja di lapangan.
Dalam proyek bertingkat, kebutuhan scaffolding tidak hanya dipengaruhi luas dan tinggi bangunan. Beberapa faktor berikut juga sangat menentukan:
Apakah scaffolding hanya untuk akses pekerja, atau sekaligus menopang bekisting dan pengecoran? Beban berat membutuhkan konfigurasi yang lebih rapat dan komponen dengan spesifikasi lebih tinggi.
Bangunan dengan banyak sudut, kantilever, atau fasad tidak beraturan memerlukan penyesuaian desain scaffolding yang lebih kompleks.
Apakah scaffolding dipakai full height sekaligus, atau bertahap mengikuti progres lantai? Metode ini akan memengaruhi jumlah unit yang perlu disiapkan.
Penggunaan guardrail, tangga akses, safety net, serta platform berlapis juga harus masuk dalam perhitungan material.
Beberapa kesalahan yang sering terjadi di lapangan antara lain:
Menghitung hanya berdasarkan luas, tanpa memperhatikan tinggi
Mengabaikan kebutuhan bracing dan pengaku
Tidak memasukkan faktor beban kerja
Tidak menyediakan cadangan material
Menggunakan asumsi jarak tiang tanpa melihat spesifikasi sistem
Kesalahan-kesalahan ini dapat menyebabkan revisi desain di tengah proyek, yang berdampak pada biaya dan jadwal pekerjaan.
Pada proyek bangunan bertingkat, scaffolding sebaiknya sudah masuk dalam tahap engineering planning. Dengan perencanaan sejak awal, Anda bisa:
Mengoptimalkan jumlah material
Menyusun jadwal mobilisasi alat
Mengurangi risiko perubahan desain
Menjamin aspek keselamatan kerja
Pendekatan ini jauh lebih efisien dibandingkan menyesuaikan scaffolding secara reaktif saat pekerjaan sudah berjalan.
Menghitung kebutuhan scaffolding untuk bangunan bertingkat memerlukan pendekatan teknis yang mempertimbangkan luas area, tinggi kerja, jenis sistem, beban, serta metode pelaksanaan proyek. Perhitungan yang akurat bukan hanya membantu mengontrol biaya, tetapi juga memastikan stabilitas struktur perancah dan keselamatan pekerja.
Untuk proyek dengan kompleksitas tinggi, perhitungan manual sering kali tidak cukup. Di tahap inilah dukungan tim teknis dan sistem scaffolding yang terstandarisasi menjadi faktor penting dalam keberhasilan proyek.
Sebagai penyedia solusi scaffolding, Indosteger jual scaffolding untuk membantu perencanaan kebutuhan scaffolding secara presisi, sesuai karakteristik proyek bangunan bertingkat Anda.
Persiapkan semuanya bersama Indosteger!