Indosteger
Indosteger adalah platform jual dan sewa scaffolding dengan proses produksi menggunakan teknologi tinggi dan bahan berkualitas sehingga hasil produksi berstandard nasional.
Scaffolding dalam dunia konstruksi bangunan memiliki ragam bentuk dan fungsi yang berbeda-beda. Termasuk tinggi scaffolding yang digunakan. Semakin tinggi scaffolding yang digunakan maka semakin besar pula konsekuensi dan tingkat perlindungan yang digunakan.
Berikut beberapa tinggi scaffolding yang aman dan sesuai standar dari beragam jenis yang kerap digunakan di Indonesia.
Memahami tinggi scaffolding bukan sekadar angka, hal ini sangat menentukan keselamatan, efisiensi, dan kenyamanan kerja. Tinggi yang tepat membantu proyek berjalan lancar dan mengurangi risiko kecelakaan.
Berikut beberapa alasan mengapa ukuran tinggi scaffolding sangat penting:
Menjamin Keselamatan Pekerja: Tinggi scaffolding yang sesuai mencegah risiko jatuh atau tergelincir saat bekerja di ketinggian.
Mendukung Efisiensi Kerja: Pekerja dapat menjangkau area kerja dengan mudah tanpa harus menggunakan alat tambahan yang berisiko.
Memenuhi Standar Konstruksi: Proyek harus sesuai dengan regulasi dan standar keselamatan yang berlaku, termasuk tinggi scaffolding.
Memudahkan Penempatan Material: Tinggi scaffolding yang tepat membuat distribusi material lebih mudah dan aman.
Mengurangi Risiko Kerusakan Struktur: Tinggi yang tidak sesuai bisa membuat scaffolding tidak stabil, meningkatkan kemungkinan kerusakan atau roboh.
Jika Anda sedang memerlukan scaffolding untuk menjangkau tempat yang tinggi dengan aman, berikut informasi spesifikasi tinggi dari jenis scaffolding yang tersedia di pasaran:
Andang bisa dikatakan sebagai scaffolding tradisional yang biasa dipakai dalam proses pengerjaan konstruksi bangunan, khususnya di Indonesia.
Bahan baku dari jenis scaffolding andang ini adalah kayu yang cukup kuat. Keunggulannya adalah mudah dipindahkan, namun di sisi lain perbedan atau kelemahan dibandingkan scaffolding besi adalah tingginya tetap atau tidak bisa disetel ulang.
Biasanya tinggi scaffolding jenis andang ini memiliki penggunaan dalam hal tertentu. Semisalnya saja untuk digunakan dalam mengerjakan konstruksi bangunan yang memiliki tinggi 2.5 meter hingga 3 meter.
Jika ketinggian lebih dari itu, maka tidak bisa menggunakan andang ini. Sebab, jika dipaksakan akan berbahaya bagi pekerja dan tidak bisa dipasang scaffolding tambahan.
Baca juga: Mengenal Berbagai Jenis Klem Scaffolding Serta Fungsinya
Selain andang, model atau jenis scaffolding tradisional lainnya yang biasa digunakan di Indonesia adalah perancah tiang. Sama halnya dengan andang, bahan bakunya sendiri biasanya terbuat dari kayu maupun bambu. Tinggi scaffolding dari jenis perancah tiang terkadang bisa dibuat hingga 10 meter. Namun, tingginya bisa lebih dan tergantung pada kebutuhan pembangunan konstruksi.
Selain dibuat menggunakan bambu, ada pula untuk jenis ini yang dibuat dengan memadukan konsol besi. Keunggulannya adalah selain lebih kuat adalah cara pemasangannya lebih cepat dan lebih praktis serta menghemat tempat. Bambu yang digunakan pun tak perlu dipotong.
Seperti namanya, jenis ini digunakan untuk akses saja dan digunakan dalam menimbun barang maupun material pendukung lainnya. Bahan baku yang digunakan pada umumnya adalah alumunium yang kuat. Acces tower scaffold ini memiliki ukuran baja yang ringkas dan cocok untuk digunakan dalam proyek konstruksi dengan tingkatan yang medium.
Tinggi scaffolding ini biasanya adalah 15 meter. Akan tetapi, jika penggunaannya lebih dari ketinggian tersebut maka harus diperhitungkan terlebih dahulu segala konsekuensinya dan disetujui oleh penanggung jawab proyek.
Contohnya saja bagian-bagian yang digunakan pada jenis scaffolding ini harus dipasang dengan kencang. Agar pengerjaan proyek semakin aman dan terhindar dari hal-hal yang tak diinginkan termasuk kecelakaan kerja.
Berikutnya adalah scaffolding mobile yang sebenarnya bisa dikatakan versi ‘modern’ dari andang yang telah disebutkan pada poin pertama.
Untuk tinggi scaffolding ini biasanya adalah tiga meter dan bisa digunakan untuk berbagai keperluan konstruksi, baik indoor maupun outdoor. Selain itu, scaffolding ini dipasangi dengan roda.
Dengan demikian memudahkan Anda untuk memindahkannya dari satu tempat ke tempat lain. Namun, dengan catatan jika Anda menggunakannya, sebaiknya jangan memasang ban angin. Gunakanlah ban khusus dan dilengkapi dengan pengunci agar tetap stabil ketika digunakan.
Kemudian ada suspended transform yang penggunaannya ditopang dari atas. Kelemahannya adalah tidak ada penyangga tambahan di bagian bawahnya.
Jadi, benar-benar menggunakan peopang dari atas yang umumnya menggunakan tali baja kuat. Meski begitu, penggunaannya aman asal dilakukan berdasarkan prosedur yang telah ditetapkan. Penggunaan tinggi scaffolding ini biasanya tidak boleh dari enam meter.
Ukuran tinggi scaffolding diatur oleh standar keselamatan baik di tingkat nasional maupun internasional. Standar ini penting untuk memastikan scaffolding aman digunakan dan dapat menahan beban kerja sesuai kebutuhan proyek.
Setiap negara memiliki pedoman yang berbeda, berikut beberapa contohnya:
OSHA (Amerika Serikat) : OSHA menetapkan bahwa scaffolding harus dilengkapi guardrail atau pagar pengaman jika ketinggian dari lantai ke platform kerja melebihi sekitar 3 meter. Standar ini juga mengatur kapasitas beban dan stabilitas struktur scaffolding.
ANSI/ASSE A10.8-2019 (Amerika Serikat) : Standar dari American National Standards Institute ini memberikan pedoman perancangan, pemasangan, penggunaan, dan inspeksi scaffolding, termasuk tinggi minimum dan batas beban maksimum.
EN 12811-1 (Uni Eropa) : Pedoman ini digunakan di wilayah Uni Eropa untuk merancang dan menggunakan scaffolding dengan ketinggian minimum yang aman serta kapasitas beban yang sesuai.
CSA S269.2 (Kanada) : Standar dari Canadian Standards Association mengatur scaffolding, mulai dari konstruksi, tinggi minimum, hingga prosedur pemeliharaan dan inspeksi rutin.
BS 5973 (Inggris) : British Standards Institution menetapkan standar ini untuk memastikan scaffolding aman dan stabil, termasuk ketentuan tinggi minimum, perancangan, dan penggunaan yang tepat.
Baca juga: Kelebihan Menggunakan Jasa Scaffolding Rental
Memilih tinggi scaffolding tidak boleh sembarangan. Keselamatan pekerja selalu menjadi prioritas utama dalam proyek konstruksi.
Beberapa faktor keselamatan perlu diperhatikan agar scaffolding stabil, aman, dan sesuai standar kerja:
Setiap scaffolding memiliki kapasitas beban tertentu. Penting untuk menghitung jumlah pekerja, material, dan peralatan yang akan berada di atas scaffolding agar tidak melebihi batas aman. Penggunaan melebihi kapasitas dapat menyebabkan scaffolding runtuh atau tidak stabil.
Tinggi scaffolding harus seimbang dengan lebar dan pondasi yang digunakan. Struktur yang terlalu tinggi tanpa dukungan yang cukup berisiko goyah atau miring. Pastikan semua standard, ledger, dan transom terpasang dengan benar untuk menjaga kestabilan.
Keselamatan pekerja juga ditentukan oleh kemudahan akses. Sediakan tangga, platform, dan jalur evakuasi yang aman. Hindari menempatkan scaffolding terlalu dekat dengan area sempit atau jalur keluar masuk, agar pekerja dapat bergerak cepat saat terjadi keadaan darurat.
Itulah beberapa tinggi scaffolding yang aman digunakan untuk masing-masing scaffolding dalam hal pengerjaan konstrkusi bangunan. Dalam memilih jenis scaffolding berdasarkan ketinggiannya, penting untuk memahami kebutuhan proyek konstruksi Anda dengan cermat.
Hal ini dikarenakan jenis-jenis scaffolding di atas memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing yang perlu dipertimbangkan. Dengan pemahaman yang baik tentang jenis-jenis scaffolding berdasarkan ketinggiannya, Anda dapat memilih opsi yang paling sesuai dalam pengerjaan proyek konstruksi Anda.
Agar makin aman dan nyaman, tentu Anda perlu menggunakan scaffolding kualitas terbaik. Salah satunya adalah dari Indosteger yang menyediakan scaffolding terbaik dan bisa Anda dapatkan secara online dengan cara klik di sini.