indosteger@gmail.com   +62218294428

News

Jarak Tiang Listrik yang Aman Sesuai Tegangan dan Lokasinya

Berita mengenai tiang listrik yang roboh kerap kali ditemukan saat kita membuka situs portal berita. Penyebab robohnya pun bermacam-macam, termasuk jarak tiang listrik yang sering diabaikan dalam pembangunan. Penggunaan konstruksi dan material dalam membangun tiang listrik pun harus direncanakan dengan detail sebelum mulai dieksekusi.

Tiang listrik sudah menjadi infrastruktur yang krusial di zaman yang semakin modern ini. Aliran listrik yang kita terima ini merupakan hantaran tenaga listrik yang disalurkan melalui kabel yang terdapat pada tiang listrik. Karena itu, pembangunan konstruksi juga harus dilakukan dengan benar dan tidak boleh sembarangan.
 

Memahami Konstruksi Tiang Listrik

Pembangunan tiang listrik juga tidak boleh sembarangan, harus diperhatikan pula situasi dan kondisi di sekitarnya. Material tiang listrik yang digunakan umumnya ada dua, yaitu besi baja atau besi beton. Besi baja yang digunakan untuk membangun tiang listrik berbentuk panjang dan bulat. 

Berbeda dengan besi baja, besi beton terbuat dari semen campuran dan menggunakan besi kecil sebagai tulangnya. Tiang listrik dari besi beton ini lebih banyak dibangun, dilengkapi dengan kabel RTC yang lebih aman daripada jaringan instalasi lainnya.

Pembangunan tiang listrik ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang, karena harus di bawah pertanggungjawaban Perusahaan Listrik Negara (PLN). Lagipula, infrastruktur ini juga merupakan visi PLN untuk menyalurkan listrik dari pembangkit hingga ke rumah tangga dan industri.

Konstruksi yang membentuk tiang listrik pun terdiri dari beberapa jenis, di antaranya:

  1. Konstruksi Tiang Penyangga (TR-1), berguna untuk menyangga atau menggantung kabel. Tiang penyangga dipasang pada tegangan rendah dengan bentuk lurus atau memiliki sudut maksimum 15 derajat.
  2. Konstruksi Tiang Sudut (TR-2), merupakan jaringan yang memiliki sudut belok berukuran 15 derajat hingga 90 derajat.
  3. Konstruksi Tiang Awal (TR-3), merupakan bagian awal jaringan dan tempat pemasangan trafo distribusi listrik.
  4. Konstruksi Tiang Akhir (TR-4), merupakan tempat pemasangan Saluran Kabel Udara Tegangan Rendah yang dibuat sebagai tiang penyangga.
  5. Konstruksi Tiang Penegang (TR-5), merupakan konstruksi penegang yang berguna untuk lima gawang panjang pada tiang tersebut.

Baca juga: Ukuran Kabel Instalasi Listrik Rumah Standar PLN
 

Berapa Jarak Tiang Listrik yang Aman?

Jarak antar tiang listrik bergantung dari tegangan listrik yang tersedia di daerah tersebut. Biasanya, patokan yang digunakan ialah 40 meter untuk tiang listrik dengan tegangan yang rendah. Sedangkan tiang listrik dengan tegangan menengah harus berjarak 40 hingga 50 meter. Jarak itu belum mutlak, karena harus diperhatikan pula faktor tanahnya. Seperti yang kita tahu, tanah di Indonesia itu bermacam-macam jenisnya, mulai dari tanah berbukit, tanah berawa, hingga tanah yang memiliki tekstur lembut layaknya lumpur.

Kemudian, jarak aman tiang listrik juga harus diperhatikan agar tidak terlalu dekat dengan objek di sekitarnya, seperti bangunan dan pohon. PLN juga menginformasikan bahwa tiang listrik harus dibangun sejauh 3 meter dari objek di sekitarnya, termasuk orang yang berada di daerah tersebut. 

Penetapan jarak 3 meter ini tidak hanya berguna untuk keamanan orang yang ada di sekitarnya. Jarak tiang listrik 3 meter ini bisa mengurangi gangguan pada jaringan listrik akibat terhalang oleh pohon atau bangunan.

Kesimpulannya, konstruksi dan jarak tiang listrik yang hendak dibangun tidak boleh sembarangan, sehingga tidak mudah roboh dan membahayakan orang yang ada di sekitarnya. Tiang listrik kini lebih banyak dibuat dengan menggunakan besi beton, di mana besi hollow galvanis bisa dijadikan sebagai tulangannya. Harga besi hollow 5x10 dari Indosteger juga dijamin merupakan yang terbaik dari harga pasaran pada umumnya.

Baca juga: Penyebab Umum Terjadinya Korsleting Listrik Dirumah

Recent Articles