indosteger@gmail.com   +62218294428

News

Bagaimana Struktur Bangunan Tahan Gempa?

Hidup di Indonesia yang banyak sekali gunung aktifnya menjadikan bangunan harus memiliki struktur bangunan tahan gempa. Struktur bangunan tersebut dapat bertahan dan melindungi penghuni yang tinggal di daerah dengan tingkat risiko gempa menengah hingga tinggi. 

Umumnya, kerusakan struktur bangunan akibat gempa disebabkan oleh hal-hal seperti: sistem bangunan yang digunakan tidak sesuai tingkat risiko gempa, kualitas material dan praktik konstruksi tidak bagus, serta pengawasan dan kontrol kualitas selama konstruksi tidak berjalan dengan baik. 

Lalu, bagaimana struktur bangunan tahan gempa? Simak penjelasannya dalam artikel ini!

Apa Saja Metode Pembuatan Struktur Bangunan Tahan Gempa?

Sambungan konstruksi yang kuat sangat penting dalam membangun struktur penahan beban geser gempa. Karena tegangannya terkonsentrasi pada sambungan antara dinding, penting untuk memastikan semua sambungan dipersiapkan dan diperkuat dengan benar. Sambungan beton juga harus terpasang dengan benar untuk mencapai kekuatan yang optimal. 

Untuk merancang bangunan tahan gempa, insinyur bekerja memperkuat struktur bangunan agar melawan potensi gempa. Gempa bumi melepaskan energi yang mendorong bangunan dari satu arah, jadi strateginya adalah membuat bangunan mendorong ke arah yang berlawanan. Berikut ini beberapa metode yang digunakan untuk membantu bangunan tahan gempa:

1. Fondasi yang Fleksibel

Fondasi yang fleksibel dapat membantu sebuah bangunan tetap berdiri selama gempa bumi. Salah satu pilihannya adalah membangun struktur di atas bantalan yang memisahkan bangunan dari tanah. Karena desain fondasi ini menjauhkan dasar bangunan dari tanah, maka bangunan ini lebih tahan terhadap gaya gempa. Metode ini membantu menyerap gelombang seismik sekaligus mencegahnya perambatan ke dalam gedung secara efektif.

Fondasi berada di bagian bawah dan berfungsi menyalurkan beban ke tanah. Oleh karena itu, fondasi harus tertanam kuat di dalam tanah. Kedalaman minimum untuk fondasi adalah 60-80 cm. Untuk faktor akurasi kedalaman atau jenis fondasi, lakukan pengujian eksplorasi tanah lokasi struktur akan dibangun. Setelahnya, lanjutkan dengan proses penghitungan struktur oleh sipil/profesional konstruksi untuk menentukan komponen penguat struktur bangunan.

Baca Juga: Beragam Jenis Pondasi Bangunan yang Umum Diterapkan

Untuk menahan keruntuhan, bangunan harus mendistribusikan kembali gaya yang melewatinya selama peristiwa seismik. Dinding geser, bresing silang, diafragma dan rangka penahan moment sangat penting dalam penguatan struktur bangunan.

Dinding geser atau shear walls  adalah teknologi bangunan yang dapat membantu mentransfer gaya gempa. Terbuat dari beberapa panel, dinding ini membantu bangunan mempertahankan bentuknya saat bergerak. Dinding geser ditopang oleh bresing silang diagonal yang terbuat dari baja. Balok ini dapat mendukung kompresi dan tegangan dalam melawan tekanan dan gaya dorong.

Diafragma juga merupakan bagian sentral dari struktur bangunan yang terdiri dari lantai bangunan, atap dan geladak yang ditempatkan di atasnya. Diafragma berguna menghilangkan tegangan dari lantai dan mendorong gaya ke struktur vertikal bangunan.

Rangka penahan moment memberikan fleksibilitas tambahan dalam desain bangunan. Struktur ini ditempatkan di antara sambungan bangunan dan balok untuk menekuk ketika sambungan tetap kaku. Dengan demikian, bangunan tersebut mampu menahan gaya gempa yang lebih besar. Desainer pun bebas mengatur elemen bangunan tanpa harus mengkhawatirkan fondasinya.

2. Gunakan Bahan yang Tepat

Material beton dan baja tulangan untuk struktur beton bertulang tahan gempa akan memengaruhi proses plastifikasi struktur yang dihasilkan. Salah satu parameter material beton yang paling berpengaruh dalam hal ini adalah nilai kuat tekan.

Berdasarkan Kode Beton Indonesia Pasal 21.1.4.2, kuat tekan (fc’) untuk bahan beton yang digunakan pada struktur bangunan tahan gempa tidak boleh kurang dari 21 MPa. Dengan kekuatan sebesar itu, bangunan akan memiliki ketahanan yang baik dan kinerjanya tidak akan mudah berubah seiring bertambahnya usia bangunan.

Untuk baja tulangan, kondisi permukaan baja merupakan salah satu parameter yang paling berpengaruh terhadap proses plastifikasi. Baja tulangan dapat dibagi menjadi dua jenis: tulangan polos dan tulangan ulir. Kode Beton Indonesia saat ini membatasi penggunaan tulangan polos hanya untuk tulangan spiral.

Baca Juga: Kenali Arti Kode Besi Beton untuk Memudahkan Anda

Kode Beton Indonesia membatasi nilai kekuatan luluh yang ditentukan untuk material baja tulangan tidak lebih dari 400 MPa. Penggunaan material baja tulangan dengan kekuatan yang lebih tinggi dapat menyebabkan ikatan yang lebih tinggi antara baja tulangan dan beton sehingga berpotensi rapuh ketika elemen struktur mengembangkan kapasitas lentur maksimumnya.

Parameter lainnya adalah nilai faktor kekuatan berlebih. Besarnya nilai faktor kekuatan lebih dari bahan baja tulangan adalah perbandingan antara kuat leleh sebenarnya dengan kuat leleh yang ditentukan. Nilai parameter ini harus dibatasi dan tidak boleh berlebihan. Parameter kekuatan lebih diperlukan untuk elemen struktur yang dirancang berdasarkan konsep desain kapasitas. Hal ini digunakan juga untuk mendesain elemen struktur yang diharapkan tetap elastis ketika plastifikasi terbentuk pada elemen struktur yang langsung melekat padanya.

3. Mekanisme Drainase

Drainase juga penting untuk membantu struktur mentolerir gempa bumi. Air yang menggenang dapat menciptakan komplikasi struktural. Itulah sebabnya garasi parkir sering memiliki struktur bantalan beban ganda dengan tikungan yang menurunkan satu sudut — fitur yang disebut warping. Insinyur mencapai drainase positif dengan kemiringan minimum 1,5 persen melintasi diagonal ke arah drainase lantai. 

Ketika bencana terjadi di area dengan tanah berpasir yang gembur, goncangan dapat mengakibatkan fenomena yang disebut likuifaksi. Kondisi tersebut membuat bangunan tenggelam atau bergerak ke satu sisi dan pipa limbah bisa naik ke permukaan. Ketika tanah kembali mengeras setelah gempa bumi, bangunan-bangunan itu tetap berada dalam posisi cekung dan miring.

Baca Juga: 4 Langkah Cara Instalasi Pipa Air yang Benar dan Aman

Namun, drainase gempa mencegah likuifaksi dengan cara mengumpulkan air keluar. Setiap saluran pembuangan berukuran antara 3 dan 8 inci dengan diameter. Instalasi yang berhasil membutuhkan penempatan bergaya grid. Tergantung pada ukuran area yang rawan likuifaksi, sebuah bangunan mungkin membutuhkan ratusan atau ribuan saluran air.

Itulah penjelasan mengenai struktur bangunan tahan gempa pada artikel kali ini. Jika Anda sedang mencari sewa steger, peralatan konstruksi seperti steger dengan budget yang minim, sebaiknya Anda lihat di website Indosteger. Selain menjual, Indosteger juga menyewakan alat-alat untuk kebutuhan konstruksi dengan harga terbaik. Semoga artikel terkait struktur bangunan tahan gempa dapat berguna bagi Anda! 

Recent Articles